MAJENE — Upaya memperkuat pemasaran produk kreatif berbasis budaya terus dilakukan oleh Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Minggu (21/06/2026).
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai DIPA Unsulbar, tim pengabdian memberikan pelatihan digitalisasi pemasaran dan optimalisasi storytelling marketing kepada kelompok remaja kreatif pengrajin miniatur Sandeq di Lingkungan Parappe.
Kegiatan bertajuk “Digitalisasi Pemasaran dan Optimalisasi Storytelling Marketing pada Kelompok Remaja Kreatif Pengrajin Miniatur Sandeq” dilaksanakan pada di tempat produksi souvenir “SANDEQU, Lingkungan Parappe.
Kegiatan ini menyasar kelompok remaja kreatif yang selama ini mengembangkan kerajinan miniatur “Sandeq”, salah satu ikon budaya dan identitas masyarakat Mandar.
Tim pengabdian Irma Yulia Madjid sebagai Ketua, Reski Fitriah sebagai anggota, serta melibatkan lima orang mahasiswa dari Jurusan Perikanan. Tim bekerja bersama kelompok pengrajin yang diketuai atas nama Subhan.
Kegiatan ini dilatarbelakangi karena masih terbatasnya pemasaran produk miniatur Sandeq yang dihasilkan kelompok SANDEQU. Selama ini, pemasaran produk masih banyak mengandalkan momentum tertentu, terutama ketika terdapat event atau perlombaan sandeq,” terang Irma.
Sementara itu, pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi dan pemasaran masih belum optimal. Kondisi itu, menjadi perhatian tim pengabdian karena produk miniatur Sandeq memiliki potensi ekonomi sekaligus nilai budaya yang sangat kuat.
“Miniatur yang dihasilkan bukan sekadar souvenir, tetapi merepresentasikan perahu tradisional yang memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat Mandar,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, tim memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada kelompok SANDEQU mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran produk. Peserta diperkenalkan pada strategi membuat konten promosi, menampilkan keunggulan produk, memanfaatkan media sosial, serta membangun komunikasi dengan calon konsumen melalui konten yang menarik dan informatif.
Salah satu pendekatan utama yang diperkenalkan adalah Storytelling marketing. Pendekatan ini digunakan untuk mengubah cara produk miniatur Sandeq diperkenalkan kepada konsumen.
“Produk tidak hanya ditampilkan dari sisi bentuk, ukuran, bahan, dan harga, tetapi juga disertai cerita mengenai nama, sejarah, filosofi, dan nilai budaya sandeq.
Dengan strategi, calon konsumen diharapkan tidak sekadar melihat miniatur Sandeq sebagai barang souvenir. Setiap produk dapat menjadi pintu masuk bagi konsumen untuk mengenal lebih jauh sejarah dan budaya masyarakat Mandar.
“Yang ingin kami dorong bukan hanya bagaimana souvenir ini terjual, tetapi bagaimana setiap produk memiliki cerita. Ketika konsumen membeli miniatur sandeq, mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan budaya Mandar yang melekat pada sandeq tersebut,” ujar Ketua Tim Pengabdian.
Pendekatan diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk. Cerita mengenai Sandeq menjadi bagian dari identitas produk sehingga dapat membangun daya tarik emosional dan kultural bagi konsumen.
Strategi ini sekaligus membuka peluang bagi SANDEQU untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui media digital dan tidak hanya bergantung pada penjualan saat berlangsungnya event Sandeq.
Ketua kelompok SANDEQU Subhan, menyambut sangat baik kegiatan pendampingan.” Keterampilan pemasaran digital menjadi kebutuhan penting bagi kelompok pengrajin, terutama untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen di luar wilayah Parappe,” ulasnya.
Kegiatan pengabdian juga melibatkan lima mahasiswa dari Jurusan Perikanan. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari proses pembelajaran langsung di masyarakat, khususnya dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan potensi budaya lokal.
“Melalui kegiatan ini, kelompok SANDEQU memperoleh tambahan wawasan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi sebagai instrumen pemasaran. Peserta juga didorong untuk lebih kreatif dalam menghasilkan konten yang mampu menggabungkan visual produk, cerita budaya, dan strategi pemasaran digital,” tuturnya.
Tim pengabdian berharap keterampilan yang telah diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kelompok SANDEQU. Pemanfaatan media digital secara konsisten diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan jumlah konsumen, memperkuat citra produk, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan kelompok pengrajin.
“Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif masyarakat sekaligus, melestarikan budaya Mandar melalui pendekatan digital,” ujarnya.
Miniatur Sandeq diharapkan tidak hanya menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan sejarah dan identitas budaya Mandar kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan menggabungkan keterampilan kerajinan, teknologi digital, dan kekuatan cerita budaya, SANDEQU diharapkan mampu berkembang menjadi kelompok usaha kreatif yang lebih mandiri dan memiliki daya saing, sekaligus menjaga keberlanjutan pengetahuan dan identitas *sandeq* di tengah perkembangan ekonomi digital. (rls)








