MAJENE, LINGKARMANDAR — Dosen STIKES Bina Bangsa Majene sukses melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat Pemula dengan tajuk “Pemberdayaan Istri Nelayan dalam Pengolahan Makanan Daerah ‘Sambusa’ untuk Mencegah Stunting Melalui Pendampingan Sektor Kesehatan.”
Kegiatan ini dilaksanakan di Lingkungan Tangnga-Tangnga, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Pendanaan 2025.
Kegiatan ini menyasar istri-istri nelayan yang tinggal di wilayah pesisir, yang meski berperan penting dalam ekonomi keluarga, masih menghadapi tantangan serius terkait akses kesehatan, pengetahuan gizi, dan pengolahan makanan bergizi. Berdasarkan data SSGI, angka stunting di Sulawesi Barat pada 2021 mencapai 33,8%, dan pada 2024, Kecamatan Banggae Timur mencatat 478 kasus stunting.
“Hal ini memperlihatkan pentingnya intervensi berbasis komunitas di wilayah tersebut,” ujar Ketua Masyita Wahab, Selasa 30 September saat dikonfirmasi.
Kata dia, pemberdayaan Sambusa sebagai Inovasi Pangan Bergizi
Makanan lokal Sambusa, yang biasa dikonsumsi masyarakat Mandar, dijadikan fokus utama dalam program ini.
“Dosen dan tim memberikan pelatihan pengolahan sambusa bergizi menggunakan bahan lokal seperti ikan Tuna, Cakalang, serta sayuran segar seperti wortel dan daun bawang. Tujuannya adalah meningkatkan kandungan nutrisi sambusa agar menjadi alternatif makanan sehat dalam pencegahan stunting,” ungkapnya.
Program berlangsung selama empat bulan dan dilaksanakan melalui empat tahapan strategis:
Koordinasi dan Analisis Kebutuhan, meliputi FGD, pendampingan usaha, dan penyusunan SOP.
Desain Media Sosial, untuk digitalisasi promosi produk mitra.
Pelatihan dan Diseminasi, seperti pelatihan alat produksi dan manajemen layanan usaha.
Promosi dan Sosialisasi, mencakup peresmian program, aktivasi media sosial, serta laporan akhir kegiatan.
Dampak Nyata Kegiatan
“Program ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kapasitas mitra, khususnya kelompok istri nelayan. Kapasitas produksi sambusa yang sebelumnya terbatas kini meningkat hingga dua kali lipat setelah penggunaan alat bantu produksi yang lebih efisien,” ungkapnya.
. Pendapatan harian mitra juga mengalami peningkatan yang cukup tajam, dari rata-rata Rp 200.000–300.000 menjadi Rp 700.000–1.000.000 per hari. Produk sambusa yang sebelumnya dikemas secara sederhana kini tampil lebih profesional dengan label, logo usaha, serta informasi gizi yang menarik minat pasar. Penerapan SOP tertulis dalam seluruh proses produksi turut menjamin mutu dan konsistensi produk. Di sisi pemasaran, mitra telah aktif memanfaatkan media sosial dan strategi promosi digital untuk memperluas jangkauan pasar secara daring. Seluruh proses kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif, di mana dosen pelaksana dibantu oleh tiga orang mahasiswa yang terlibat aktif dalam observasi lapangan, pendampingan mitra, hingga penyusunan laporan akhir. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.
Harapan dan Keberlanjutan
Melalui program ini, istri nelayan tidak hanya memperoleh peningkatan pengetahuan gizi dan keterampilan usaha, tetapi juga membuka peluang wirausaha berbasis potensi lokal. Pendekatan ini sejalan dengan Fokus Riset Nasional terkait Kesehatan Ibu dan Anak, serta Gizi Masyarakat, sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) nomor 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera bagi Semua Usia.
“Program ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah pesisir lain yang memiliki potensi serupa namun terkendala akses dan pengetahuan. Dengan keterlibatan aktif mahasiswa, kegiatan ini juga memperkuat peran kampus dalam pengabdian nyata kepada masyarakat,” harapnya. (mbr)








